Saturday, May 19, 2012

Solitude @Situ Gunung...

“Loneliness adds beauty to life. It puts a special burn on sunsets and makes night air smell better.” ― Henry Rollins



Dan kesendirianku berawal...

Temenku tiba-tiba meng-cancel rencana camping kami ke Situgunung Sukabumi, di kawasan Taman Nasional Gede Pangrango. Cancel di last minutes, yang sumpah membuatku lumayan bete. Gimana enggak, jika carrierku sudah kupacking rapi dengan segala tetek bengek perlengkapan camping. Yup, tenda, matras, sleeping bag, kompor, nesting dan sebagainya sudah terjejal sempurna di dalamnya dan tinggal angkat saja. Yeah, daripada ngedumel sendiri, maka kuangkat saja carrier itu dan meluncur naik ojeg ke Terminal Kampung Rambutan. Aku niat ke Sukabumi sendiri.

Sebuah bis ekonomi jurusan Sukabumi sedang ngetem menunggu penumpang penuh. Kumasuki. Masih separuh bangku terisi. Tepat jam 06.30, bis itu kemudian berjalan pelan keluar terminal. Seorang Ibu yang duduk di sebelahku menawariku gorengan yang baru saja dibelinya.

"Mari, Teh." "Oh ya Bu, terima kasih. Saya sudah sarapan kok" "Mau camping ya, Teh?" tanyanya "Iya, Bu" "Di mana?" "Sukabumi, Bu. Di Situgunung" "Oh ya ya, dulu anak Ibu suka camping di sana waktu SMA dulu" Aku tersenyum, dan mendengarkan cerita sang Ibu tentang anaknya. "Kok sendirian, Mbak campingnya?" "E...temen-temen sudah nunggu di Cisaat, Bu. Saya aja yang sendirian dari Rambutan" Aduh maaf banget Bu, saya terpaksa bohong, habis ntar panjang penjelasannya... "Berapa jam ya Bu, sampai Cisaat kira-kira?" tanyaku "E...kalau nggak macet ya mungkin sekitar 3 jam-an"

Maka jadilah si Ibu itu teman ngobrolku di dalam bus. Seorang Mbak-Mbak yang naik dari Jalan Baru yang kemudian duduk di sebelah kami, menambah teman ngobrol kami. Seru kami membicarakan tentang acara TV "Reportase Investigasi" setelah si Ibu cerita kalau gorengan tahu yang dimakannya kok minyaknya banyak banget. Lalu dengan lincahnya si Mbak ini bercerita tentang acara TV tersebut dimana salah satu episode yang ditontonnya membahas masalah gorengan yang telah dicampuri bahan kimia berbahaya demi keuntungan produsen semata.

Macet di Ciawi. Bis berjalan pelan sekali. Pedagang asongan meramaikan suasana dalam bis. Mulai dari gorengan, aneka minuman botol, onde-onde, buah-buahan dll keluar-masuk bis entah berapa kali. Mata ini tak terlelap. Benar-benar perjalanan yang sangat ternikmati. Sempat memandangi sebuah pabrik air mineral di daerah Cicurug. Tersenyum dan teringat sesuatu di masa lalu. Aku pernah masuk ke dalamnya, dulu, telah lama sekali, saat aku bekerja di grup yang sama dengan pabrik tersebut. Ha3x, yeah tiba-tiba aku ingat sebuah pabrik dengan merk yang sama di daerah Citeurep Bogor, tempat kerjaku semasa tahun 2001 sampai 2004.

Aku belum pernah ke Situ Gunung. Cuma berbekal beberapa blog yang pernah kubaca tentang lokasi tersebut. Maka setelah lewat pasar Cibadak akupun bilang pada kondektur bis tersebut bahwa nanti aku turun di Polsek Cisaat.

"Masih jauh kok, Teh" katanya. Mau camping ya, Teh?" "Iya, Pak" "Di Cinumpang?" "Bukan, Pak. Di Situ Gunung." >"Oh. Nanti turun di Polsek Cisaat. Naik ojeg dari situ. Angkot juga ada, tapi jalan dulu sampai pertigaan pasar. Angkotnya sampai depan gerbang Situ Gunung kok" jelasnya dengan logat Sunda-nya yang kental. Penjelasan yang sangat tepat. Thanks a lot, Pak Kondektur :-)

Aku geser pindah tempat duduk di belakang biar dekat pintu keluar dan ngobrol dengan kondektur tersebut di sela-sela kemacetan yang lumayan di pasar Cibadak.

Akhirnya sampailah aku di Polsek Cisaat. Sesuai petunjuk dari pak kondektur, para tukang ojeg memang telah stand by di lokasi tersebut dan menawarkan jasanya. Aku menolak, pengen ngirit naik angkot saja, meski harus berjalan kira-kira 50 meteran ke pertigaan pasar. Aku masuk ke sebuah warung padang, mengganjal perut dulu. Jam menunjukkan pukul 11 siang, waktu Cisaat Sukabumi.

Angkot berwarna merah itu tak begitu lama ngetem. Penumpang langsung memenuhi termasuk aku dengan carrierku. Sengaja kuambil tempat duduk paling pojok, toh aku akan turun di penghujung rute angkot ini. Jalanan aspal lumayan bagus di awalnya, kemudian diselingi jalanan yang agak rusak dan menanjak. Hawa dingin mulai terasa, tampak pegunungan di depan sana, pohon pinus dan hijau suasana. Situ Gunung, aku datang, sejenak menyambangimu, menggumulimu semalam saja...

Setelah membayar tiket masuk 3000 rupiah, aku menuju kantor pengelola Situ Gunung Park untuk registrasi. Aku bertemu dengan Pak Ical & crew. Mereka agak kaget ketika mengetahui rencanaku untuk camping seorang diri. Akhirnya gagal rencanaku untuk nge-camp di camping Tegal Arben yang letaknya paling dekat dengan danau Situ Gunung dengan alasan yang cukup masuk akal mengingat aku camping seorangan. Akhirnya camping ground Bagedor yang letaknya di belakang kantor direkomendasikan mereka untukku. Yeah, tinggal teriak kalau ada apa-apa...toh dekat dengan kantor, hehe. Well, baiklah kalau begitu.

Aku tak langsung mendirikan tenda, melainkan jalan-jalan dulu ke danau Situ Gunung. Danau yang cantik, meski katanya ini danau buatan. Sayang agak mendung. Kubandingkan dengan situ-situ di Garut yang pernah kukunjungi, yang ini lebih cantik. Tampak banyak orang, sepertinya acara kampus, sedang outbound di sana. Sip, saatnya menjajal lensa wide baruku, Tokina 11-16mm!

Nyaris sore ketika aku mendirikan tenda, si kuning Consina. Gerimis mengundang. Please jangan hujan. Sesuai ramainya berita yang kubaca di internet bahwa nanti malam akan ada supermoon, dimana bulan akan berada paling dekat dengan bumi. Berharap bisa menikmatinya di sini. Sinyal hp full, include 3G, aku tak berasa sendiri...

Tapi mimpi tinggal mimpi, ketika rintik hujan tak jua berhenti. Supermoon tak akan terlihat dalam cuaca seperti ini. Khayalanku menggelar matras di depan tenda, menikmati secangkir kopi, memandang langit dengan segala egoisme diri...gagal sudah. Aku meringkuk sendiri, dalam dekapan sleeping bag, menuju pagi.



Pagi di tepi danau Situ Gunung adalah pagi terindah yang pernah kutemui. Kabut malu-malu menyelimuti rimbun pepohonan di sekitar, sama malunya dengan sinar matahari yang sedikit demi sedikit menampakkan diri. Bau humus sisa hujan semalam terasa ringan dihirup. Gunung Gede Pangrngo tampak gagah di belakang. Kukitari Danau Situ Gunung dengan sampan sewaan dengan membayar 7000 ribu rupiah. Yup, morning has broken, like the first morning...





Selesai mereguk cantiknya danau, destinasi selanjutnya adalah menuju Curug Sawer yang juga masih berada di kawasan Situ Gunung. Sekitar 30 menit tracking dengan medan yang lumayan naik turun. Playlist di Ipod yang berisi lagu-lagu jadul ternyata sangat pas menemani kesendirianku, mencumbui pemandangan alam yang kurindui. Indah, dan aku suka...



Jam 11 siang, aku pamit pada Situ Gunung. Kembali ke Jakarta dengan bis ekonomi yang kucegat dari depan alun-alun Cisaat. Jalanan macet dan ban kempes kian melengkapi perjalanan siang itu. Mungkin aku akan kembali suatu hari nanti, menyongsong pagi kembali bersamamu...:-)

Mengutip quote dari seorang novelis Perancis, Honore de Balzac bahwa : Solitude is fine, but you need someone to tell that solitude is fine. Yeah, and now I want to tell everybody that solitude is fine, ha3x!

Tuesday, April 03, 2012

Maret

Dan sejarahpun berulang...

Di bulan yang sama, enam tahun lalu. Hal ini pernah terjadi. Sesuatu yang entahlah, tak bisa kuceritakan dengan detail. Cukup memilukan. Perasaan terbuang dan tak dihargai. Meski berhasil kulalui, aku tetap kalah. Semuanya tak bisa pulih seperti semula. Kadang aku masih meradang, jika perasaan sakit itu muncul kembali, saat tak sengaja pikiran ini mengembara ke beberapa bagian silam masa lalu.

Aku selalu takut pada Maret, meski tak tiap tahun terjadi sesuatu. Tapi kerap ada sesuatu yang terjadi. Buruk biasanya. Ah, semoga aku bukan musyrik. Aku cuma menandai waktu pada beberapa peristiwa hidup yang cukup signifikan.

Tahun ini, kembali terbukti. Maret kembali menjelma menjadi bulan yang membuatku kerdil, lemah dan terpuruk.

Aku kembali bersiap lelah. Harusnya cukup tegar karena telah cukup berpengalaman. Ya, aku menerima sejarah ini lagi. Karena sejarah kembali terulang, seperti bulan Maret, enam tahun silam...

(@BL Barge, menghitung jam untuk days off...)

Monday, February 27, 2012

"Sentilan" Seorang Kal Muller

"Orang indonesia kalau punya uang, akan liburan ke bali. Okelah, Bali masih Indonesia. Namun, kalau uangnya lebih banyak lagi, ia akan ke Singapura. Bila uangnya lebih banyak lagi, mereka pergi ke Eropa atau Amerika. Kenalilah negaramu dulu sebelum yang lain"

Itulah kalimat Kal Muller, seorang Antropolog asal Hungaria yang telah memilih Papua menjadi rumahnya, di akhir program Face To Face With Desi Anwar di Metro TV beberapa hari yang lalu. Kata-kata yang cukup membuatku tersentil. Bagaimana tidak, jika bahkan seorang bule yang harus mengucapkan itu pada kita, penghuni Indonesia yang lahir jeger di bumi Nusantara.

Saturday, February 25, 2012

Melodia

Kangen bikin puisi, tapi jemari tak mampu lagi. Mungkin aku sedang hampa inspirasi. Mungkin juga karena kemalasan tingkat tinggi. Tapi aku sedang rindu ingin perpuisi. Jadi kunikmati sajak indah ini, tulisan seorang penyair mumpuni...

MELODIA - karya Umbu Landu Paranggi

cintalah yang membuat diriku betah untuk sesekali bertahan
karena sajakpun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan
baiknya mengenal suara sendiri dalam
mengarungi suara-suara luar sana
sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi,
membawa langkah ke mana saja

karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati mengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menyeri hari-hari tergesa berlalu
meniup seluruh usia, mengitar jarak dalam gempuran waktu

takkan jemu-jemu nafas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka duka, hikmah rahasia melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawahbantal, pananggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam deras bujukan
rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis, bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi gairah bergelora hidup kehidupan dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan

Friday, January 27, 2012

Meretas Jogja

Sebuah perjalanan mengisi kembali jadwal off kerjaku yang bertepatan dengan long weekend tahun baru imlek. Kali ini temen jalanku adalah Sopi. Tiket murah Air Asia dari Jakarta membawa kami mblusukan ke kota gudeg Yogyakarta.

Rini, sobat lamaku jaman kuliah dulu telah menyambutku di terminal kedatangan Bandara Adi Sutjipto. Ah, kau masih seperti dulu Rin. Tak ada yang berubah, masih Rini yang super romantis, hehe. Aku juga beruntung memilikimu di kota itu, karena dengan sukarela kau pinjami aku motor untuk keliling Jogja :-)

Motor yang akhirnya penuh dengan ransel dan koper itu kemudian melaju di atas jalanan kota Jogja menuju Hotel Agung Mas di Jl. Cokroaminoto yang telah Sopi booking. Ancer-ancernya adalah....dari Bandara belok kiri, lurus terus, melewati kira-kira 10 lampu merah kemudian belok kiri, nemu rel kereta api lalu lurus terus kira-kira 100 meter setelah itu. Hah, lengkap deh Rin. Kita nggak nyasar kok :-)

Sesampai di hotel ternyata kita belum bisa langsung check in karena masih pagi dan kamar belum kosong. Jadilah kami cuma nitip barang saja untuk kemudian lanjut ke Cangkringan/Kaliadem, melihat sisa-sisa letusan Gunung Merapi.

Berbekal GPS Manual alias tanya-tanya orang sepanjang jalan akhirnya kami sampai juga di Kaliadem. Mengunjungi desa Kinah Rejo tempat tinggal Alm. Mbah Maridjan. Rumah Alm. Mbah Maridjan sudah rata dengan tanah, di atasnya dibangun sebuah gubuk kecil sebagai penanda bertuliskan "Rumah Mbah Maridjan". Tepat di sampingnya, dua motor dan satu mobil APV yang tinggal rangkanya saja, teronggok menjadi saksi kedahsyatan terjangan awan panas waktu itu. Di dekatnya pula terdapat spanduk berisi tulisan kronologi kejadian waktu itu. Masjid di dekat rumah Mbah Maridjan juga sudah didirikan lagi meski hanya menggunakan bangunan papan dan bambu. Istri Mbah Maridjan nampak di area situ. Sebentar bercakap dengan beliau menanyakan keadaannya dan beliau mengijinkan kami untuk berfoto dengannya.



Rencana sebenarnya mau langsung pulang tapi Sopi tergoda oleh offroad tour menggunakan jeep di areal Kali Gendol, Kali Opak dan areal lainnya sisa erupsi Merapi. Setelah tawar menawar dengan si pemilik jeep akhirnya dimulailah petualangan offroad kami. Yup, Sopi as a driver! Sementara si driver aslinya menjadi navigator. Aku cukup menumpang di belakang saja, sambil sesekali jadi fotografer dadakan. Guyuran hujan menambah serunya perjalanan siang itu.



Merapi tertutup kabut, ah sayang...keindahan aslinya tak terekam indah dalam foto-foto.

Setelah puas berkeliling, perut diisi dengan mie rebus, kamipun pulang kembali ke Jogja. Hujan rintik hingga sedang mengantar kami turun dari lereng Merapi.

Motor yang kubawa sampai ke daerah deket-deket Condong Catur kalau nggak salah, ketika tiba-tiba kurasakan helm yang dipakai Sopi terantuk-antuk ke helmku. Oo...ngantuk nih anak. Merasa nggak aman mboncengin orang yang ngantuk dan tidur , aku segera berinisiatif mencari masjid saja agar Sopi bisa istirahat. Tapi entah berapa jauhnya tak jua kutemukan masjid di pinggir jalan. Waduh! Motor kujalankan pelan saja sambil mata ini terus memperhatikan sisi-sisi jalan. Alhamdulillah dari sisi kiri aku bisa membaca tulisan nama masjid 50 meter belok kiri. Maka ndlongsorlah dengan sempurna Ibu Sopi di masjid tersebut. Sementara aku bengong ria menunggu dia bangun. Sholat dhuhur udah, lanjut sholat ashar...dan dia baru bangun abis sholat maghrib. Gubrax deh!

Jam 7 malam-an kamipun keluar dari masjid tersebut. Tujuan selanjutnya adalah makan malam di Bale Raos kompleks Keraton Jogja. Sejenak mencicipi hidangan favorit para Sultan. Aku pilih, aduh lupa nama menunya tapi semacam suwiran daging bebek panggang yang dikasih saos kedondong. Yummy juga. Tak lupa dengan minuman wedang jahe gulo klopo. Ah, serasa dinner dengan keluarga kerajaan.

Lanjut lagi ke alun-alun Kidul. Menjajal mitos berjalan di antara dua beringin. Ah, Sopi gagal. Aku nggak nyoba karena sudah bisa kupastikan aku akan mbelak-mbelok juga, hehe. Di alun-alun Kidul sempet ketemuan dengan anggota milist Petualang24, ngobrol, kemudian cao dan janjian besoknya akan ke Gunung Kidul bersama.

Nah, dari alun-alun Kidul menuju hotel, kami nyasar. Muter-muter nggak karuan, bolak-balik kok jebulnya sini lagi sini lagi. Proses penyasaran tersebut berlangsung sekitar 1 jam! Akhirnya, kami berhasil menuju jalan kebenaran dan sampai ke hotel dengan selamat.

Esoknya, seperti rencana kami sebelumnya, pantai-pantai di Gunung Kidul akan jadi tujuan selanjutnya. Sejatinya aku bukan pecinta pantai, lha wong tiap 2 minggu dalam sebulan hidupku sudah di tengah laut dan melihat laut seperti sudah eneg dan mau muntah rasanya, haha. Tapi, buat Jogja mungkin bisa jadi exception deh. Kami pergi berdua saja, karena teman yang tadinya janjian akan menemani batal ikutan. Berbekal rambu-rambu di jalan dan sekali lagi GPS Manual...Valentino Rossi jadi-jadian ini meluncur di jalanan Jogja-Gunung Kidul. Hajar blehhhhh....

Busyet dah, serasa nggak inget waktu aku terus melajukan motor. Jalanan berkelak-kelok dan naik turun, ampuun! Pegel banget tangan dan pantatku naik motor tanpa istirahat selama 2 jam lebih, begitupun Sopi yang meski cuma membonceng tapi pastilah capeknya kerasa. Akhirnya, dengan selamat sentosa...sampailah kami di pantai pertama...Pantai Baron.

Pantai Baron, ramai orang siang itu. Pengeras suara dari pengelola pantai mengumumkan acara-acara dan fasilitas yang tersedia bagi pengunjung. Sesekali suara Ebiet G Ade bernyanyi, menjadikan langit kelabu yang tak menyisakan biru itu menjadi melow mendayu (hehe). Pantainya cukup indah. Apalagi kalau kita naik ke atas bukit karangnya dan memandang ke bawah. Setelah menyantap es kelapa, fotografer super amatiran ini jeprat-jepret sesukanya. Dan Sopi, ah...come on, tak maukah kau foto-foto di sini? Dia menggeleng, pengen istirahat saja katanya :-(

Tak berapa lami, kami lanjut lagi ke pantai sebelahnya yaitu Pantai Kukup. Wuih, keren euy. Ada view yang mirip kayak Tanah Lot di Bali (emang udah pernah ke Tanah Lot, Len? Hi3x, cuma lihat di gambar maksude!). Airnya kehijauan, ada semacam ganggang hijau yang menyelimuti air di tepi pantainya. Tapi langit semakin abu-abu...

Lalu kami menyusur jalan ke pantai di sebelahnya lagi. Tercantum rambu "Pantai Sepanjang". Pantainya memang panjaaaaaaaaaaaang banget. Masih sepi. Kami cuma lewat saja dengan motor sejalan garis pantainya. Tak sempat berhenti di sana.

Balik ke jalan besar lagi, ada rambu kecil bertuliskan "Pantai Watukodok". Kutawarkan ke Sopi, mau mampir nggak? Dia bilang nggak usah. Oke deh. Lanjoot lagee...!

Lurus jalan, kami menjumpai tulisan "Pantai Drini". Motor kugeber ke situ. Jalanan menanjak. Sampai di dekat pantai, tiba-tiba Sopi berteriak kegirangan "Eh, masjid-masjid!". Hah, ini anak tiba-tiba berubah jadi alim sekarang, lihat masjid langsung hijau matanya. Usut punya usut, ternyata dia pengen tiduran karena capek dan ngantuk. Oalah, kirain! Lalu menggeleparlah dia dengan sempurna, sekali lagi di sebuah masjid.

Akhirnya aku sendirian mengeksplore pantai ini. Eh, ada yang lagi foto pre-wedding di situ euy. Pantainya cantik, dengan deburan ombak besar khas pantai selatan. Dari atas batu karang, pantai tersebut terlihat semakin cantik. Background langit mendung, menjadikan pantai ini tambah sayu (halah, bahasamu...Len).



Setelah puas menikmati pantai Drini, aku kembali ke masjid dan masih menemukan Sopi molor dengan nikmatnya. Walah! Padahal kostum pantainya yang sudah ia siapkan telah menjejali ranselku, tapi nyaris tak ada photo session di pantai satupun karena dia telah tepar sedari awal. Sorry nek, sepertinya dikau perlu dibiasakan untuk jalan jauh pakai motor, hehe...

Hujan tiba-tiba deras mengguyur ketika kami bermaksud pulang dari pantai Drini. Yup, stop di pantai Drini saja dan tak melanjutkan ke pantai-pantai yang masih tersisa di sebelahnya. Hiks, lumayan kecewa juga sebenarnya karena pantai Krakal, pantai Sundak dan entah apalagi belum sempat terjelajahi. Sudah terbayang 3 jam naik motor untuk kembali ke kota Jogja, terbayang pegel dan capeknya maksudnya. Lalu kami putuskan untuk nginap di Wonosari saja, kota terdekat yang hanya menempuh perjalanan kira-kira 1 jam.

Event Kejurnas Balap Sepeda Tingkat Nasional di Wonosari, menjadikan hampir semua hotel dan penginapan di kota itu penuh. Tapi Alhamdulillah, akhirnya kami menemukan kamar juga. Dan Losmen Tilam Sari di sebuah gang di Wonosari menjadi saksi dilakukannya pemijatan oleh sang ahli pijat ke tubuh Sopi. Hehe, Sop...Sop...kamu kok lucu sampe kepikiran panggil tukang pijat segala. Yo wis selamat menikmati, aku terusin motor-motoran keliling Wonosari, dan berharap berharap nggak nyasar...hehe

Esoknya kami melanjutkan perjalanan ke kota Jogja. Valentino Rossi jadi-jadian ini kembali menggeber motor pinjeman Jeng Rini. Love u, Rin :-)

Bukit Bintang terlewati begitu saja. Ah, Bukit Bintang...seharusnya aku menikmati kamu semalam. Melihat kerlip lampu-lampu Jogja dari atas sana. Hiks, lain kali ya :-)

Kami belok ke arah Piyungan. Sopi pengen liat Keraton Ratu Boko katanya. Oke deh, siap nek. Keraton Ratu Boko mah nggak bakal pernah lelah kucumbui, meski baru sebulan lalu aku pergi ke sana.

Dan Sopi-pun berganti busana, merias diri cantik sekali sesampainya di Ratu Boko. Wkwkw, kostum pantainya yang tak terjamah kemarin selama di pantai, ia pakai sekarang. It's time for...pemotretan model! Hmm, padahal aku belum pernah belajar sekalipun motret model. Tapi biarin ajalah, trial and error, kalau hasilnya ntar error ya wajar, hehe...



Rencana lanjut jalan ke Candi Ijo dan Candi Banyunibo di dekat Ratu Boko gagal sudah karena jeng Sopi pengen langsung pulang ke kota Jogja. Hiks, lain kali lagi ya...(aku akan ke sana!).

Long weekend membuat Jogja jadi penuh luar biasa. Lampu merahnya yang rata-rata lamanya di atas 1 menit lebih dan lampu hijaunya yang cuma 20 detik, agak-agak bikin macet jalan. Dan...ketika sampai di deket Mall Saphir, waduh-waduh...partner jalanku kembali ngantuk. Ditahan dulu, Sop...lima lampu merah lagi kita sampai hotel. Tapi apa daya, tingkat kengantukan Sopi sudah di atas ambang batas. Akhirnya dia memutuskan turun dari motor ketika melihat ada salon Natasha di seberang Mall Saphir. Mau tidur dan facial aja katanya di sana :-)

Jadilah aku meneruskan perjalanan sendiri. Sebelum balik ke hotel, aku mampir dulu ke Mirota Batik di Malioboro untuk membeli sesuatu. Satu set miniatur gamelan, menggoda imanku. Tapi harganya yang selangit membuatku sadar bahwa lebih baik uang tersebut ditabung saja, hahaha.

Sekitar jam 4 sore, Sopi telepon katanya sudah selesai facial dan sudah tidur. Good! Mau balik dulu ke hotel untuk mandi kemudian kita akan jalan-jalan di Tamansari. Tapi sampai maghrib, dia tak juga muncul di hotel. Lha, nyasar ke mana? Sms nggak dibales, telepon nggak diangkat. Sumpah, aku panik luar biasa! Lha wong jarak Mall Saphir ke hotel nggak begitu jauh kukira. Khawatir terjadi sesuatu padanya.

Hah, akhirnya dia datang juga tepat jam 7 malam. Bercerita tentang kemacetan Jogja dan kemungkinan pengemudi taksi yang memutar-mutar jalannya. Yo wislah, yang penting kamu selamet nduk...

Malam itu aku sudah janjian dengan Rini dan keluarga untuk makan di luar. Tunjukkan aku ciri khas Jogja, Rin. Makan di angkringan juga hayo aja. Itu malah yang ingin banget kunikmati, yup kebersahajaan kotamu. Akhirnya kami makan di warung nasi goreng sapi di pinggiran Kota Baru sambil ngobrol tentang masa lalu. Asli, belum terbayar utuh rinduku padamu.



Senin, 23 Januari 2012. Pagi-pagi aku motor-motoran sendiri keliling kota Jogja. Sori Sop, kamu masih molor di kasur, jadi nggak enak membangunkanmu, hehe. Mencium pagi Jogja (tanpa acara nyasar)...dan aku jatuh cinta... :-)

Flight kami kembali ke Jakarta sekitar jam 1 siang. Masih ada kesempatan untuk jalan-jalan ke Tamansari. Mengunjungi reruntuhan bangunan masa lalu yang pasti megah pada saat jayanya dulu. Eh, ada yang lagi foto pre-wedding juga! Hmm, kemarin di pantai Drini, sekarang di Tamansari. Lagi musim kali ya?

Petualangan kami di Jogja berakhir di Tamansari. Pesawat Air Asia siang itu menerbangkan kami pulang ke Jakarta. Jogja, aku pamit dulu...

Untuk Rini, thanks banyak sist untuk semua bantuanmu. Aku pasti kembali suatu hari nanti, kau tahu.. bahwa aku telah jatuh cinta pada keindahan pagi di kebersahajaan kota-mu...

"Aku terpejam, kuhirup nafas dalam
di gerbang kotaku, Yogyakarta
Hari ini aku pulang, hari ini aku datang
bawa rindu, bawa haru, bawa harap-harap cemas
..........................
Setiap sudutmu menyimpan derapku, Yogyakarta
Setiap sudutmu menyimpan langkahku, Yogyakarta"
(Ebiet G. Ade, Yogyakarta)


Monday, January 02, 2012

Pergantian Tahun di Kawah Galunggung



Cuti diapprove and it means aku bisa tahun baruan di darat. Rencana telah siap, merayakan pergantian tahun di Gunung Galunggung Tasikmalaya Jabar. Bersama gank nggembel baruku, Nia dan Ayu, kita camping ceria di sana. Menjauhi hiruk pikuk perayaan di ibukota untuk berbagi waktu dengan alam.

Berangkat dari Pule Residence, our kost sweet kost sekitar jam 8 malem via ojek depan gang menuju Terminal Kampung Rambutan. Rencana awalnya kita bakal naik bis paling malem yang ke Tasikmalaya sekitar jam 11 malam sehingga diperkirakan bisa sampai di Tasikmalaya pagi-pagi. Tapi dengan pertimbangan "jangan-jangan macet" di Cipularang mengingat nyaris tahun baru akhirnya kami putuskan untuk ikut bis Primajasa ke Tasikmalaya yang jam 9 malam.

Doa dan harapanku adalah...semoga di jalan bener-bener macet sehingga kita sampai di Tasikmalaya pagi, tapi ternyata oh ternyata jalanan lumayan lancar sehingga kita sampai Terminal Indihiang Tasikmalaya tepat jam 2 pagi. Alamak...ini mah kepagian! Abang-abang ojeg yang standby di depan terminal langsung mengerubuti kami. Tadinya mau ikut numpang di warung deket pangkalan ojeg itu untuk menunggu sampai pagi, tapi kok kelihatan agak-agak nggak nyaman dan nggak aman, ditambah lagi para tukang ojeg itu terus menanyai kami dan tak hentinya menawarkan jasa untuk mengantarkan kami ke Galunggung saat itu juga. What? Yang bener aja!

Untung ada masjid yang menyelamatkan kami. Thanks God! Sebuah masjid yang terletak di dalam kompleks terminal, tempat kami beristirahat menunggu pagi. Nggelar sleeping bag...molor-lah daku hingga shubuh. Sepertinya cuma aku yang molor, ha3x!

Percakapan dengan seorang bapak yang jualan di samping masjid yang ternyata beliaunya adalah imam masjid di situ mewarnai penantian kami. "Naik angkot warna hijau teh kalau ke Galunggung. Kalau ragu tanya saja sama pengurusnya, ada di rumah makan". Begitulah pesen bapak tersebut. Walau agak sedikit bingung dengan maksud "pengurus di rumah makan", kami iyakan saja.

Matahari pagi menampakkan diri, tak lama kemudian angkot hijau tampak mangkal di pasar seberang terminal lalu kami pamitan ke bapak tersebut. Saat hendak menyeberang jalan ke arah pasar. Seorang petugas yang berada di gerbang masuk bis terminal menanyai kami dan menjelaskan transportasi menuju Galunggung. "Nyebrang ke pasar, naik angkot warna kopi", katanya. Hah? Warna kopi? Bukannya hijau...? Waduh, gimana nih Pak petugas?

Setelah nyebrang ke arah pasar, demi ketepatan angkot yang akan kami naiki, maka kami kembali bertanya. Kali ini kami bertanya sama seorang mbak-mbak yang sedang menyapu di depan sebuah toko "itu, angkot warna hijau itu yang ke Galunggung. Angkot teh, bukan bis". Haha...Nia untuk ke sekian kalinya kembali salah sebut, mau nyebut angkot malah keliru nyebut bis. Menurut supir angkotnya, dia akan berangkat jam 06.45. Jadi masih ada kesempatan 30 menit untuk sarapan. Ada ketupat sayur mangkal dekat angkot tersebut. Kali ini Nia menanyakan dulu berapa harga se-porsinya sebelum membeli. Yeah, karena pengalaman membuktikan sudah beberapa kali dalam perjalanan kami sebelum ini, makan deket terminal selalu saja dihargai mahal padahal hanya makanan standar saja. Jadilah ketupat sayur ala Tasikmalaya kami santap sebagai sarapan. Bukan ketupat sayur ding karena blas nggak ada sayurnya, maka kami sepakat menamakannya sebagai ketupat kuah :-)

Tepat jam 7 pagi kurang sedikit, kami bersama angkot warna hijau akhirnya berangkat ke Galunggung. Carrier & daypack kami berdiri di antara tumpukan box-box minuman mineral bahkan juga sekarung sayur yang memenuhi hampir separuh isi angkot. Jalan menuju Galunggung bener-bener sudah rusak. Amat disayangkan betapa destinasi wisata yang aku yakin telah menyumbangkan pendapatan asli daerah ini, tidak begitu diperhatikan aksesnya. Tapi meski dengan kondisi jalan yang rusak dan mengakibatkan ketidaknyamanan duduk di dalam angkot, kulihat si Ayu tetep bisa molor tuh. Yeah, selamat bermimpi indah di dalam angkot :-)

Entah berapa kilometer jarak dari Terminal Indihiang ke Galunggung, perasaan perjalanannya lumayan lama. Meski jalanan rusak, tetapi kuperhatikan petunjuk arah menuju Galunggung sangat jelas. Akhirnya sampailah kami di Pos Retribusi Galunggung. Naik ojeg menuju tangga Galunggung sudah masuk dalam itenerary kami plus budgetnya, jadi...marilah kita mengirit tenaga saja, hehe...

Ojeg mengantarkan kami tepat di dekat tangga semen menuju kawah Galunggung. Ha3x, naik gunung kok pakai tangga semen ya? Waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Sebelum naik, kami singgah dulu di sebuah warung sekalian membeli perbekalan camping nanti. Nasi bungkus, telur dadar, air minum dll. Sang Ibu penjaga warung juga menyarankan agar kami naik ke Gunung lewat jalan setapak di samping tower BTS saja yang tepat berada di samping warung tersebut, lebih dekat sampai bibir kawah dan jalannya tak begitu menanjak. Okelah kalau begitu, kita hajar bleh!

Kabut merayap naik. Hmm, seger...

Perjalanan sampai bibir kawah tak begitu jauh pun nanjak, bener kata si Ibu penjaga warung tadi. Melihat dari atas, kok area kawah yang sudah menjadi danau di bawah masih sepi, tak terlihat ada tenda camping di sana. Waduh, jangan-jangan cuma kita bertiga yang nge-camp di sana! Setelah foto narsis sebentar, kitapun turun melalui setapak ke arah kawah.

Sampai di tepian kawah, eh nemu warung. Walah, tahu ada warung gini ngapain kita bawa perbekalan dari Jakarta plus tambahan makanan di warung atas tadi ya? Harga juga cuma beda gopek doang. Sayangnya, warung yang kemudian kita namai menjadi Ibu D2alias "Depan Danau" ini tak gorengan yang masih panas kemebul, hehe...

Suasana sekitar danau masih sepi. Ada tenda yang telah berdiri cuma jaraknya juga lumayan jauh dari lokasi tempat kami nenda. Beruntung tak lama kemudian, datanglah segerombolan orang yang akhirnya menjadi tetangga dan mendirikan tenda tepat di belakang kami. Hehe, spot tempat buang air darurat meski kegusur, wkwkwk. Tambah seru juga punya tetangga yang kelakuannya lucu-lucu bin aneh-aneh ini.

Tenda berdiri, makan siang...lalu molor! Oalah, pindah tidur doang ini ceritanya :-)



Menjelang sore, Galunggung diguyur hujan deras, angin kencang plus guntur yang menggelegar. Tenda kami yang imut serasa berjuang keras melawan penderitaan. Tangan kami terus menopang tiang-tiang tenda dari dalam. Tak lupa pula berdoa pada yang Kuasa. Hah, lega rasanya ketika semuanya kemudian berakhir dan langit kembali cerah ceria menanti malam pergantian tahun.



Satu lagi keuntungan punya tetangga, yaitu kami tak perlu susah-susah bikin api unggun malamnya alias tinggal nebeng saja. Kembali disayangkan, kenapa si Ibu D2 tak menyediakan jagung sehingga bisa kami bakar bersama. Ups, ada yang ngasih susu anget juga, tapi cuma 1 orang yang menghabiskan 3 gelas susu anget tersebut. Nia nggak mau karena takut cepet pup sedangkan aku nggak mau karena takut laktosa intoleranku beraksi. Alhasil, 3 gelas susu hangat tersebut dihabiskan oleh satu orang saja (hayo tunjuk jari...!. Sang penikmat 3 gelas susu ini, juga kelihatan begitu nikmatnya klepas-klepus dengan asapnya. Yang lain serasa ngontrak aja ya, Yu? Hehe...

Kawah Galunggung mulai ramai. Satu demi satu tenda diberdirikan. Menunggu pergantian tahun, kami molor lagi. Alarm disetel jam 11 malam.

Akhirnya, pergantian tahun 2011 ke 2012 kami nikmati di kawah Gunung Galunggung. Tak kalah seru dibanding di kota. Nyatanya pesta kembang api juga kita nikmati di sana. Plus jedag-jedug musik disko dari tenda kawan-kawan yang nge-camp di seberang sana. Langit cerah. Bintang bertaburan, berkerlip indah. Meski tak ada bintang jatuh yang kulihat, boleh kan make-a wish. Dan harapanku di tahun 2012 adalah...hmm...apa ya? Ada deh! Selamat tahun baru 2012 untuk semua!

Pagi yang cerah di awal 2012. Selesai menamatkan sarapan dengan makanan instan, kamipun cabut dari Galunggung. Kini kami menggunakan jalur tangga semen untuk turun gunung. Ternyata pengunjung yang naik tangga lumayan banyak, mulai dari anak kecil sampai oma opa, terus berjuang menaiki tangga. Ayo…kamu bisa!!!

Tujuan kami selanjutnya adalah pemandian Cipanas yang letaknya tak jauh dari kawah Galunggung. Tentu saja kami ingin mandi! Hehe, secara sudah dari kemarin kami absen mandi meski sebenarnya ada sungai yang lumayan besar bahkan musholla di dekat kawah.

Kembali kami memanfaatkan jasa ojeg menuju Cipanas. Hujan rintik menyertai kami selama perjalanan. Jalanan beraspal bagus tetapi dengan track yang kadang membuat jantung mau copot. Sesampainya di Cipanas…waduh, sudah kayak cendol euy. Ramai sekali. Namanya juga tahun baru. Tapi yang penting, akhirnya…kami mandi juga! Air hangat pula!

Kami berniat langsung kembali ke Terminal Indihiang Tasikmalaya dengan angkot warna hijau dari gerbang pos retribusi. Tapi jalanan desa dengan kondisi rusak dan tidak begitu lebar tersebut tiba-tiba berubah serasa Jakarta, alias macet luar biasa. Gila! Tapi perjalanan macet dan lama bersama penumpang lain yang ternyata warga sekitar Galunggung itu membawa cerita tersendiri. Mereka adalah warga desa yang lugu yang dengan antusiasnya bercerita tentang seorang bos di daerah situ yang luar biasa kaya karena usahanya dalam pengelolaan pasir Galunggung. Dua ikat rambutan yang kami beli di Cipanas, ludes juga menjadi teman perjalanan selama menikmati kemacetan.

Sekitar jam 1 siang kami sampai di Terminal Indihiang. Sholat sebentar di masjid dalam terminal yang kemarin kita datangi. Bapak imam masjid masih mengenali kami bertiga dan menanyakan bagaimana suasana tahun baru di Galunggung sana. Lalu Bis Budiman jurusan Jakarta membawa kami pulang ke Kampung Rambutan.

Trip yang singkat tapi mengesankan. Begitu banyak kejadian lucu sepanjang kisah perjalanan. Special thanks untuk para tetangga, yang maaf banget sampai nggak hafal satu persatu namanya. Terima kasih untuk segala kebersamaan. Sampai jumpa suatu hari nanti entah di pelosok gunung mana…

“Berbagi waktu dengan alam. Kau akan tahu dirimu siapa yang sebenarnya...” (Okta feat Eros, OST Gie).

Wednesday, December 28, 2011

Memburu Masa Lalu...

Jadwal off kerja yang kebetulan berbarengan dengan liburan sekolah, kelihatan sangat sempurna. Travelling sekeluarga ke Solo-Jogja, jadi pilihan. Candi Sukuh, Cetho & Ratu Boko (again) di sana akan menjadi tujuan perjalanan kali ini. Bukan tujuan keluarga sebenarnya, tapi tujuanku egoisku (hehe). Beruntung aku memiliki ayah, ibu & adik yang sama-sama tahu bahwa aku adalah penyuka wisata candi.

Road trip pun dimulai. Dari Pekalongan, kami nginep dulu di Ungaran. Menghirup semalam udara segar kaki gunung Ungaran. Esoknya, perjalanan dilanjutkan lagi. Transit sebentar di Pasar Klewer Solo. Sebuah pasar yang entahlah, aku mungkin akan malas menginjakkan kaki di sana lagi gara-gara oknum beberapa pedagang yang memberiku kesan buruk atasnya. Sholat dhuhur di Masjid depan alun-alun. Masjid tua, tapi bangunan aslinya masih cantik.

Destinasi selanjutnya adalah Candi Sukuh. Tapi kemungkinan sampai Karanganyar sudah agak sorean, hujan deras juga mengguyur jalan. Sepertinya nggak bisa langsung ke tujuan. Dengan pertimbangan banyaknya hotel untuk bermalam, maka kami tak langsung menuju arah Ngargoyoso tempat dimana Candi Sukuh & Cetho berada, tapi kami berbelok arah ke Tawangmangu. Ah, lereng Gunung Lawu yang kini ternyata tak sedingin dulu...

Bonus mengunjungi Grojogan Sewu sebentar. Langsung tancap menuju Candi Sukuh dengan perjalanan dengan tanjakan-tanjakan yang lumayan. Sebuah candi yang cantik, bentuknya mirip piramida. Lay outnya sejenak mengingatkanku pada Candi Penataran di Blitar. Candi ini juga terkenal akan keberadaan arca yang agak saru, entahlah apa maksud nenek moyang kita membuatnya...





Dan jalan menanjak yang luar biasa adalah ke arah Candi Cetho. Alamak, ampun dah pokoknya. Thanks banyak buat adikku yang jadi driver dan sukses berjuang menuju ke sana hingga kakaknya ini bisa menyambanginya. Plus kedua orang tuaku yang tak henti berdzikir sepanjang tanjakan yang super duper mengerikan.

Yeah, sebuah candi di negeri di atas awan. Cantik. Bangunan candi di tingkat paling atas berbentuk piramida yang mirip seperti di Candi Sukuh. Dan layaknya saudara dengan Candi Sukuh, Candi Cetho ini juga menyimpan keerotisannya dengan sebuah relief yang saru juga...







Melintas perbatasan propinsi, perjalanan kami lanjutkan ke arah Yogyakarta. Sampai di Prambanan sudah sore. Gagal cita-citaku mengabadikan sunset di Prambanan karena loket masuk sudah tutup ketika sampai di sana.

Esoknya kami balik ke Candi Prambanan lagi. Suasana sudah seperti cendol di sana saking banyaknya pengunjung. Jadi males muterin Prambanan, alias langsung ikut Shuttle Bus dari Prambanan menuju Keraton Ratu Boko.

Keraton Ratu Boko, Candi tercantik sejauh ini menurutku. Setengah tahun lalu padahal baru saja dari sana, tapi sayang waktu itu nggak bawa kamera beneran alias cuma kamera hape hingga tak bisa mengabadikan kecantikannya secara sempurna. Dan kini aku kembali rindu mengunjunginya.

Langit mendung dan hujan rintik. Keraton Ratu Boko tampak makin sayu dalam keheningannya. Ah, sempet kepikir suatu hari nanti (entah kapan) aku bisa foto pre-wed di sini, hahaha! Sumpah, candi ini keren luar biasa! Imajinasi kita bahkan bisa bergerak bebas nan liar membayangkan bangunan-bangunan batu tersebut seperti apa dulunya...













Perjalanan pulang ke Pekalongan via Magelang. Sejenak say hay dengan Candi Mendut yang terlewati untuk menuju Borobudur. Nggak niat masuk ke kompleks Borobudur, suasananya juga udah kayak cendol karena pengunjung yang ramai. Jadilah hanya mampir beli bakso di deket kios souvenir/parkiran untuk mengganjal perut lapar. Sangat kecewa dengan kondisi lingkungan sekitar karena sampah berserakan. Sayang banget :-(

Ah, masih banyak Candi yang berserak yang ingin kusapa dan kunikmati keindahannya. Entah kapan bisa mblusukan, memburu masa lalu...mengais sisa kejayaan Nusantara dulu...!!!